Bagaimana Cara Belajar Bahagia

Belajar kasih Sayang dan Motivasi dari Asep Lukman
Belajar Kasih Sayang
21/11/2017
Solusi Bagaimana Agar Mudah Belajar Matematika
23/11/2017

Bagaimana Cara Belajar Bahagia

Belajar-Bahagia Asep Lukman

Pembaca yang budiman, kita selalu mengatakan bahwa keinginan kita adalah hidup bahagia, namun pernahkah kita mau untuk mengetahui bagaimana cara belajar bahagia ?

Kita hanya bisa memberikan apa yang kita miliki. Mana Mungkin kita bisa memberikan kebahagiaan jika kita tak merasa bahagia.

Masih ingat Christina Onassis? Dialah pewaris tunggal pengusaha Yunani yang merupakan orang terkaya di dunia pada masanya yaitu Aristoteles Onassis. Deposito, saham koleksi seni, hotel, danau, pulau pribadi, perusahaan penerbangan, armada laut serta kapal-kapal pesiar mewah semuanya menjadi miliknya. Namun apa yang terjadi? Ia ditemukan tewas bunuh diri meninggalkan seorang anak perempuan berusia 3 tahun.

Apa Pangkal keputusasaannya? Kepada wartawan yang mewawancarainya. Pernah berkata, “Aku adalah perempuan yang paling kaya tetapi yang paling tidak bahagia”

Sepanjang hidupnya, Christina mengalami 4 kali pernikahan yang kesemuanya gagal. 2 pernikahan awal hanya berlangsung dalam hitungan bulan. Pernikahan ketiga dengan pria komunis di Rusia hanya berlangsung tak lebih dari 1 tahun.

Pernikahan keempat dengan pengusaha Perancis membuahkan keturunan. Namun kelahiran seorang putri cantik ternyata tak mampu mengikat pernikahannya lebih lama. Setelah 2 tahun pernikahan itu pun usai.

Semua kegagalan pernikahannya membuat Christina bersumpah untuk tidak menikah lagi. Dia kemudian bepergian ke kota-kota di seluruh dunia, berharap menemukan kebahagiaan yang dicarinya. Pencarian perempuan bergelimang harta itu pun berakhir tragis di sebuah kamar hotel di Argentina. Ia tewas di usia 38 tahun karena overdosis obat diet. Ia mewariskan pada putrinya semua harta yang dimilikinya, kecuali kasih sayang dan perlindungan seorang ibu.

Belajar-Bahagia Asep Lukman

Kisah diatas, memberi pelajaran tentang pentingnya belajar bahagia atau belajar tentang arti sebuah kebahagiaan dalam sebuah ikatan pernikahan. Ketika bahagia tak dapat didapatkan dari pernikahan, segunung harta kekayaan menjadi tak berarti, karena harta tak bisa dibelanjakan untuk ditukar dengan kebahagiaan perkawinan. Karena kita tidak pernah belajar bahagia.

Keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga sangatlah berpengaruh terhadap pola pengasuhan anak. Saat suami istri bermasalah dan sering cekcok, maka hal itu akan berimbas pula pada anak-anaknya.

Kisah lain, seorang pengantin perempuan tidak menyadari bahwa pada saat pernikahannya berlangsung, ayah ibunya justru memutuskan untuk bercerai. Hal itu baru diketahuinya beberapa hari kemudian. Saat dia bersanding dengan suaminya, justru menjadi hari terakhir kebersamaan orang tuanya. Seingatnya ayah dan ibunya memang tidak harmonis, namun Ia tidak menyangka bahwa keutuhan rumah tangga orang tuanya dipaksakan bertahan hanya hingga pesta pernikahan dirinya yang merupakan Putri mereka satu-satunya.

Perempuan muda ini kemudian menelusuri masa kecilnya yang tidak bahagia. Siksaan, pukulan, dan cercaan kerap diterimanya. Kelingking kirinya hingga saat ini tampak bengkok akibat pukulan sang ayah. Beberapa bagian di tubuhnya pun merekam perlakuan buruk sang ayah. Dalam berbicara, perempuan muda ini pun kerap gagap. Ketakutan pada sosok Ayah di masa kecil membuat cara bicaranya tersendat. Kekerasan ayahnya yang lebih dahsyat pada ibunya pun sering ia saksikan sejak belia.

Ia kemudian dapat menarik kesimpulan bahwa ketidakharmonisan hubungan ayah ibunya sesungguhnya yang menjadi penyebab kekerasan pada dirinya. Kekesalan demi kekesalan yang dirasakan sang ayah pada ibunya seringkali dilampiaskan pada anaknya yang tak berdaya.

Sebab itu, betapa pentingnya mengokohkan ikatan pernikahan demi kepentingan masa depan dan kesehatan mental anak-anak. Betapa banyak orang tua yang gagal mendidik anak-anaknya disebabkan karena kegagalan dalam membina rumah tangga.

Kisah-kisah di atas mengingatkan kepada kita bagaimana suami istri menjalani ikatan pernikahannya, akan berdampak pada pembentukan kepribadian anak-anaknya. Keluarga merupakan basis pendidikan untuk membangun anak-anak yang pintar secara intelektual, sosial, dan spiritualnya.

Oleh karenanya, mari kita belajar berbahagia.

 

By : Ida S Widyawati

( Beliau adalah Praktisi, Penulis dan Pembicara Parenting )

Penulis Buku : Belajar Bahagia dan Bahagia Belajar

Comments are closed.