Let’s travel together.

Belajar Kasih Sayang

0

“Apabila seorang suami memandang kepada istrinya dan istrinya memandang kepadanya, maka Allah akan memandang mereka dengan kasih sayang. Lalu bila suami memegang telapak tangan istrinya, maka dosa-dosa mereka berguguran melalui jari-jemari mereka”.

( Riwayat Maesaroh )

Ini kisah nyata 2 buah spanduk unik terpampang di jalan besar di sebuah kota yang juga besar, satu berbentuk spanduk biasa dan yang satunya lagi berbentuk baliho dengan ukuran yang cukup besar. Spanduk tersebut menyembul cukup mencolok karena berbeda diantara yang lainnya, baik format, layout, juga desainnya. Spanduk tersebut berwarna merah muda serta bergambar hati dan pita. Isinya kurang lebih seperti ini: “untuk Dewi, dengan tulus dan maaf, dengan cinta dan kasih sayang, berharap Untuk Kembali, Iwan”

Mungkin banyak orang yang membaca spanduk tersebut bertanya-tanya. Siapakah Dewi dan Iwan, apakah mereka pasangan suami istri? Barangkali ya, atau mungkin juga tidak. Apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka?

Selama berbulan-bulan spanduk tersebut terpasang. Kainnya sudah tampak lusuh dan warnanya sudah agak pudar. Tampaknya Sang Dewi belum kembali. Sehingga pemasangan spanduk belum berniat mencabutnya. Mengapa Dewi tidak kembali, bukankah Iwan sudah menunjukkan keseriusannya meminta maaf dan menunjukkan sayang kepadanya?

Siapapun Iwan dan Dewi, apapun hubungan antara mereka tampaknya tak begitu penting. Yang perlu dicatat dari fenomena di atas adalah bahwa dalam hubungan sesama manusia, baik suami istri, hubungan persaudaraan, hubungan antara orang tua dan anak, hubungan tetangga atau teman, seringkali tersia-siakan. Rasa kasih sayang terasa hambar karena hubungan yang monoton. Semuanya baru akan terasa sangat berarti ketika salah seorang pergi. Saat itulah kita merasa kehilangan. Tak jarang, seseorang sedemikian histeris, menangis meraung-raung ketika pasangan hidupnya meninggal, padahal selama hidupnya hari-hari mereka saya percekcokan.

 

Belajar kasih Sayang dan Motivasi dari Asep Lukman

Kasih sayang merupakan elemen yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Namun, seringkali kita menyepelekannya. Kadang memang sulit untuk dimengerti mengapa banyak terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Suami memukul istrinya, atau ibu bapak menganiaya anak-anak di dalam rumahnya. Bukankah pernikahan adalah ikatan kuat yang diikrarkan dihadapan Allah dan para malaikat? Bukankah sang anak terlahir dari benih suami istri yang diikat oleh rasa cinta?

Pernahkah kita sedemikian marah pada anggota keluarga kita melebihi kemarahan kepada orang lain? Mengapa hal itu bisa terjadi? Bukankah mereka adalah bagian dari diri kita sendiri, sakit mereka adalah sakit yang juga kita rasakan. Bahagia mereka adalah bahagia kita juga.

Sifat Allah yang paling terkenal adalah sifat kasih sayang yang senantiasa kita ucapkan Pada saat memulai tiap pekerjaan, yaitu kalimat basmalah. Kalau Allah saja sedemikian maha kasih sayangnya, mengapa kita tidak mengisi hari-hari kasih sayang kepada keluarga, tetangga, teman kerja, atau bahkan pada orang yang tidak kita kenal sekalipun.

Kasih sayang bisa diungkapkan tidak saja melalui perkataan atau perbuatan, melainkan hanya dengan sekedar tatapan mata, senyuman, atau Ucapan salam. Hidup akan jauh lebih indah jika dipenuhi dan dihiasi bunga-bunga kasih sayang.

Penulis : Ida S Widayanti ( Praktisi Parenting, Penulis dan pembicara Parenting )

Pengarang Buku : Belajar Bahagia, Bahagia Belajar

Leave A Reply

Your email address will not be published.