Let’s travel together.

Spiritual Journey Hidayah di Ujung Maut

0

Hidayah di Ujung Maut

Herlan Kostrada

Semua jenis narkoba sudah pernah dicicipinya. Berkali-kali mengalami overdosis tak membuatnya jera. Namun, setitik kesadaran mampu merombak total kehidupan kelamnya.

Suram, itulah kata yang bisa menggambarkan masa lalu seorang pria bernama Herlan Kostrada. Diland panggilan akrab Herlan telah mengenal narkoba sejak ia menginjak bangku SD. Ia pun sudah mencoba semua jenis narkoba. Perkenalannya dengan barang-barang haram lebih dikarenakan pengaruh lingkungan.

Sejak kelas empat SD, Diland kecil mengaku sudah gemar menghisap ganja, kebiasaan ini terus ia lakukan sampai dewasa. Ketika SMP tidak hanya ganja yang ia konsumsi, ia pun mulai mengenal satu-persatu zat adiktif jenis lain. Bahkan saat kelas dua SMP Diland over dosis untuk pertama kalinya. Pihak keluarga tidak percaya bahwa Diland termasuk user (pengguna narkoba), karena pria kelahiran 22 Desember 1969 termasuk orang bertipikal baik di hadapan keluarga. Meski telah mengalami over dosis, Diland tidak berhenti menggunakan zat haram tersebut. Menginjak SMA kebiasaan buruk Diland semakin menjadi, hari-harinya tidak terlepas dari belenggu hitam narkoba. Kelas satu SMA Diland kembali mengalami over dosis yang kedua. Tidak lama setelah lulus SMA Diland over dosis kembali, kali ini cukup parah sampai muntah darah.

Spiritual Journey Kisah Hidayah Di Ujung Maut, Orang OD hidup Kembali Asep Lukman

Terlahir di lingkungan militer membuat Diland merasa sebagai penguasa negeri. Tidak jarang Diland dan kawan-kawannya tertang­kap aparat saat menikmati ‘daun setan’, namun tidak lama ia dapat terbebas dari jeratan hukum.

“Saya dan teman-teman merupakan orang-orang yang kebal hukum, karena kami sering tertangkap aparat saat menghisap ganja, yah tidak lama kami pun bebas. Itu semua berkat jabatan orangtua kami,” ujar Diland.

Satu per satu teman-temannya meninggal dunia, karena penggunaan narkoba yang melebihi dosis. Hati Diland pun berteriak dan berontak. Ia bertanya-tanya, sesungguhnya apa makna di balik semua ini. Ia telah beberapa kali menga­lami over dosis namun jiwanya masih selamat.

“Ya Allah, saya tidak tahu makna apa yang terkandung dari ini semua karena Engkau masih memberiku hidup. Jika saya tidak bisa berubah, lebih baik Kau matikan diriku saat ini juga,” ucap Diland.

Perlahan anak kesembilan dari sepuluh bersaudara ini mulai me­ngurangi konsumsi narkoba, namun ia tidak dapat lepas dari ganja karena ganja sudah seperti rokok biasa. Pada tahun 2000, Diland menikahi gadis bernama Hirma Lestari. Tidak lama menikah, Diland pun dikaruniai seorang anak. Keluarga masih prihatin dengan perilaku Diland, karena ia tetap menggunakan ganja meski telah memiliki seorang putra yang diberi nama Muhammad Adzandra Kostrada.

Melihat ini semua Ida Zuraida Nalis, kakak kandungnya me­ngajak Diland untuk mengikuti training ESQ. Ida berharap de­ngan training ESQ Diland dapat berubah. Sang kakak pun merayu Diland untuk ikut. Namun Diland menolaknya, ia berdalih dirinya sudah sehat dan normal.

“Daripada uangnya digunakan untuk biaya training, lebih baik uangnya saya gunakan untuk beli susu bayi saya dan sisanya untuk beli ganja,” ujarnya dalam hati.

Beberapa hari kemudian, Diland terbangun di suatu malam, tiba-tiba ia ingin melaksanakan sholat Tahajud. Tidak lama setelah itu, telepon seluler Diland berde­ring. Ketika itu ia bingung, siapa gerangan orang yang menelpon pada malam-malam begini.

Setelah dilihat ternyata yang menelpon adalah Priyatna Abdurrasyid, suami dari Ida Zuraida. “Diland, buruan kamu mandi nanti kakak jemput. Kamu harus ikut training ESQ, pokoknya harus,” ucap kakaknya diujung telepon.

Dengan sangat terpaksa, Dilan pun mengikuti ajakan kakaknya. Diland diantar sang kakak ke Jakarta Convetion Center (JCC), Jakarta, untuk mengikuti training ESQ Eksekutif angkatan 32, tahun 2002. Saat memasuki materi Outer Journey, Diland melihat betapa besarnya alam semesta dan bagaimana terjadinya semua ini. Ia pun tersadar jika manusia itu sesungguhnya sangat kecil di alam raya ini, bak sebuah debu di padang pasir yang luas.

Ibarat tanah tandus disirami air hujan, hati Diland terus berteriak-teriak mengetahui itu semua. Ia pun menangis sejadi-jadinya karena menyadari segala kesalahan yang pernah dilakukan. Selama empat hari training, Diland selalu diberikan kesempatan untuk berbagi perasaan. Sampai-sampai sekitar dua minggu suaranya hilang.

“Dulu saya sangat bangga dan sombong akan kehebatan diri saya, ternyata saya tidak ada apa-apanya. Kalau saya diijinkan oleh Allah saya akan teriakkan di setiap kuping manusia bahwa nilai 165 (Iman, Islam, Ihsan) itu adalah benar dan ini adalah basic buat kita,” ungkap Diland sambil me­ngucurkan air mata.

Diland sangat berterima kasih kepada Allah karena telah menunjukkan jalan kebenaran kepadanya. Ia juga berterima kasih kepada kakak iparnya karena telah sabar memperkenalkan, mengantarkan, dan menunggu dia mengikuti training ESQ selama empat hari.

Diland tidak menyangka begitu dahsyatnya nilai 165. Dahulu ia menganggap bahwa training ESQ sama saja dengan training-training yang pernah ia ikuti. Karena ia sudah sering mendapatkan siraman rohani dari berbagai ulama besar di negeri ini, tetapi semua hanya melintas begitu saja di te­linga tanpa memberikan pengaruh yang berarti.

“Ya Allah, saya berterima kasih kepada-Mu, karena keluarga kami telah diperkenalkan dengan training ESQ,” ucapnya.

Usai training, ia mulai berhenti menggunakan narkoba dan terus aktif sebagai Alumni Training Support (ATS) ESQ, tenaga sukarela yang membantu pelaksanaan training ESQ. Suatu hari dirinya mendengar kalau ESQ akan membangun tempat training dan tempat silaturahmi para alumni training ESQ yang diberi nama Menara 165. Dengan niat untuk membantu penyebaran nilai 165, Diland pun memberanikan diri untuk melamar kerja di Menara 165. Kini ia bekerja sebagai marketing Menara 165, menjauh dari kehidupan masa lalunya. (jos/isw)

Leave A Reply

Your email address will not be published.